Senin, 02 Januari 2012
Lomba Essay: Hari Ini, Esok dan Yang Akan Datang Di Dunia Teknologi Informatika
Ketika saya harus memilih program studi atau jurusan yang akan di tempuh di bangku kuliah, ada beberapa hal yang saya perhitungkan dan dipertimbangkan dalam benak saya seperti, kemampuan, minat, bakat, kepribadian, cita-cita, prospek karir dan restu orang tua. Banyak orang yang berpandangan, pilihlah jurusan yang gampang (gampang masuk dan gampang lulus), supaya gampang dapat pekerjaan dan gajinya besar, tanpa memperhatikan sesuai minat atau tidak. Sebenarnya pandangan seperti itu perlu ditinjau ulang, karena memilih suatu jurusan bukanlah persoalan yang mudah. Karena salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan kita dimasa mendatang. Dan jangan sampai pilihan kita dalam memilih jurusan di bangku kuliah nanti adalah ambisi orang tua atau karena kecemasan dan cara berpikir orang tua yang keliru dalam mempersepsi masa depan kita. Selain itu, kita juga harus mencari informasi mengenai sekolah-sekolah yang berkualitas dan melihat plus minusnya secara kongkrit. Dan yang paling penting sebelum kita bertindak, kita harus memikirkan semua hal dengan matang dan mantap. Karena, masa depan kita ada di tangan kita sendiri.
Karena saya memilih jurusan Teknik Informatika, maka banyak profesi atau pekerjaan yang dibutuhkan pada lulusan Teknik Informatika, di antaranya Perbankan, Programmer, Sistem Analisis dan Instruktur dalam sebuah perusahaan. Tetapi, profesi atau pekerjaan impian saya yang ingin saya jalani selepas bangku kuliah yaitu bekerja pada sebuah perbankan atau menjadi programmer pada perusahaan, baik perusahaan milik pemerintah, swasta nasional maupun swasta asing.
Perkembangan teknologi komunikasi dan komputer dengan kemampuan yang semakin canggih memungkinkan kita untuk memproses informasi secara tepat, cepat, dan akurat serta memperluas dan meningkat kan penerapan otomasi di berbagai bidang, baik di bidang industri, bisnis dan perkantoran maupun dalam menunjang perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu, peran industri software sangat strategis, karena terkait dengan sektor ekonomis, dimana selain memberikan dampak yang luas terhadap perluasan kesempatan kerja juga berusaha meningkatankan/mengembangkan teknologi informasi dan untuk meningkatkan peluang investasi dan penyerapan tenaga kerja.
Mengutip pernyataan guru TIK di sekolah saya, bahwa pada saat ini tingkat kebutuhan tenaga kerja menjadi seorang programmer itu tinggi. Hal tersebut membuat saya yakin memilih Teknik Informatika di bangku kuliah nanti. Karena Teknik Informatika menekankan pada bidang pemograman dan komputasi rekayasa piranti lunak, system basis data, komunikasi data dan jaringan komputer, intelegensia seni serta bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan pengembangan system informasi dan penempatan teknologi informasi lainnya untuk peningkatan efisiensi kerja dan mendukung keunggulan strategis organisasi dalam berkompetensi.
Ada lima bidang kepeminatan yang dipelajari di jurusan TI, yaitu: Software Engineering mendalami berbagai metologi dan alat bantu pengembangan piranti lunak, Intelligent Systems mendalami berbagai teknik kecerdasan kongrate yang dapat diterapkan untuk memecahkan suatu permasalahan, Database Technology mendalami berbagai teknologi dan aplikasi basis data, Networking mendalami bidang jaringan komputer meliputi instalasi, administrasi dan managemen suatu jaringan komputer dan Aplied Networking (CISCO) mendalami teknologi jaringan komputer yang berbasis peralatan jaringan komputer “CISCO”.
essay diatas adalah essay pertama yang saya buat untuk mengikuti lomba essay tingkat nasional yang diadakan oleh Yayasan Pendidikan Telkom. Alhamdulillah saya mendapatkan peringkat 30 dari 50 essay terbaik :)
faktor² penyebab terpuruknya kualitas pendidikan di Indonesia!
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Apabila dilihat ratio guru dengan siswa, angka-angkanya cukup bagus yakni di SD 1:22, SLTP 1:16, dan SMU/SMK 1:12. Meskipun demikian, dalam hal distribusi guru ternyata banyak mengandung kelemahan yakni pada satu sisi ada daerah atau sekolah yang kelebihan jumlah guru, dan di sisi lain ada daerah atau sekolah yang kekurangan guru. Dalam banyak kasus, ada SD yang jumlah gurunya hanya tiga hingga empat orang, sehingga mereka harus mengajar kelas secara paralel dan simultan.
Bila diukur dari persyaratan akademis, baik menyangkut pendidikan minimal maupun kesesuaian bidang studi dengan pelajaran yang harus diberikan kepada anak didik, ternyata banyak guru yang tidak memenuhi kualitas mengajar (under quality).
Hal itu dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan seperti ini menimpa lebih dari separoh guru di Indonesia, baik di SD, SLTP dan SMU/SMK. Artinya lebih dari 50 persen guru SD, SLTP dan SMU/SMK di Indonesia sebenarnya tidak memenuhi kelayakan mengajar. Dengan kondisi dan situasi seperti itu, diharapkan pendidikan yang berlangsung di sekolah harus secara seimbang dapat mencerdaskan kehidupan anak dan harus menanamkan budi pekerti kepada anak didik. “Sangat kurang tepat bila sekolah hanya mengembangkan kecerdasan anak didik, namun mengabaikan penanaman budi pekerti kepada para siswanya.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.
Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen.
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.
Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.
Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).
Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.
Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.
Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.
pray for us! (ˇʃƪˇ)
Tuhanku Yang Maha Perkasa,
Kalah adalah keadaan sementara, tapi menyerah menjadikannya permanen.
Aku harus ikhlas menerima kemungkinan kalah, sebagaimana aku bersyukur dalam kemenangan.
Menang dan kalah adalah dua sisi dari satu koin yang sama.
Sehingga,
Menghindari kegagalan adalah sama dengan menghindari keberhasilan.
Maka proyek pribadiku hari ini, adalah ikhlas memasukkan diriku ke dalam kemungkinan kalah, karena hanya dengannya mungkin bagiku untuk menang.
Sesungguhnya Engkau memanggilku mendekat kepadaMu agar aku mencapai kemenangan.
Maka tak mungkin Engkau membiarkan kekasihMu yang kecil dan penuh harap ini gagal dalam perjalanan mendekatkan diri kepadaMu.
Tuhan, sabarkanlah aku di dalam kekalahan, karena itu syarat bagiku untuk sampai kepada kemenangan.
Tuhanku Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah,
Menangkanlah aku di tahun yang baru ini.
Amin.
Kalah adalah keadaan sementara, tapi menyerah menjadikannya permanen.
Aku harus ikhlas menerima kemungkinan kalah, sebagaimana aku bersyukur dalam kemenangan.
Menang dan kalah adalah dua sisi dari satu koin yang sama.
Sehingga,
Menghindari kegagalan adalah sama dengan menghindari keberhasilan.
Maka proyek pribadiku hari ini, adalah ikhlas memasukkan diriku ke dalam kemungkinan kalah, karena hanya dengannya mungkin bagiku untuk menang.
Sesungguhnya Engkau memanggilku mendekat kepadaMu agar aku mencapai kemenangan.
Maka tak mungkin Engkau membiarkan kekasihMu yang kecil dan penuh harap ini gagal dalam perjalanan mendekatkan diri kepadaMu.
Tuhan, sabarkanlah aku di dalam kekalahan, karena itu syarat bagiku untuk sampai kepada kemenangan.
Tuhanku Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah,
Menangkanlah aku di tahun yang baru ini.
Amin.
dikutip dari Mario Teguh FanPage Facebook :)
Senin, 26 Desember 2011
akulah yang kau sakiti (˘̩̩̩˘̩ƪ)
Pemberi Harapan Palsu a.k.a PHP kayaknya lagi jaman deh ya. Buktinya bisa kita temukan dimana aja dan kapan aja. Kayak SAMPAH yang berserakan dimana-mana.
gue pengen cerita tentang pemberi harapan palsu. ehm, gue bukan mau cerita sebagai orang yang nge-php-in, soalnya gue jarang nge-php-in. gak pernah deh kayanya. yang ada gue jadi korbannya. waktu itu gue di-php-in sama si sapi.
korban penipuan mah ga sakit, korban kecelakaan juga biasa, tapi ya kalo jadi korban perasaan lo itu rasanya sakit banget tau gak :’(
dulu lo deketin gue, ngegombalin gue. sekarang? dimana lo? ngilang gitu aja kan. ngebuang gue jauh-jauh saat lo udah puas "mainin" gue. Hey BOY! gue bukan BONEKA yang bisa lo "mainin" sesuka hati lo. gue juga punya perasaan tau!!!! di-php-in sama lo itu rasanya lebih dari nyesek,! Buat apa lo dulu bilang kata2 manis ke gue kalo ujung2nya lo nyakitin perasaan gue? Cewek tuh paling ga suka tau sama yang namanya PHP atau "dimainin".
Luka yang lo torehkan belum juga hilang, sekarang lo torehkan luka yang baru! Ada ngga sih OTAKMU ??
idiot! belum puas juga apa lo nyakitin perasaan gue? udahlah cukup gue aja yang lo sakitin! jangan sahabat gue yang lo jadiin korban lo selanjutnya. tampang lo boleh polos, tapi hati lo be-u-es-u-ka. BUSUK!!! gak usah banyak gaya deh. benci gue sama orang yang talk much but no action. payah! emang lo pikir ga nyesek apa pas gue liat lo berduaan sama cewek lain. nyesek tau gak! dan lo tau gak cewek yang sering berduaan sama lo itu SAHABAT gue!! HAHAHHA gue cemburu bodoh. gue tau gue bukan pacar lo. tapi hubungan gue sama lo itu udah ngegantung. lo tau gak rasanya ketusuk paku? sakit banget kan? sama kayak perasaan gue pas ngeliat lo sama cewek lain!
emang lo pikir lo siapa? orang paling ganteng sebangsa dan setanah air gitu? lo tuh gak lebih dari cowok idiot tau gak! *ups* so shut the fuck up! jangan ukir nama lo lebih jelas lagi dihati gue kalau lo hanya akan terus menyakiti gue. dengar ya, perempuan gak suka perumpamaan! mereka hanya butuh kepastian! jangan pernah memberi gelas tanpa air didalam nya, karena itu sama saja seperti memberi harapan kosong kepada seseorang..
gue gak mau nerima HARAPAN lagi dari lu , karna semua HARAPAN yang lu kasih itu kosong semua!! Gak ada isinya!! gue seneng kok liat lo bahagia berdua sama dia ..... tapi BOHONGGG! hey lo ! iya lo yang disana ! makasih ya udah kasih HARAPAN PALSU :') ah forget it all behind. kan gue udah dapet yang jauh lebih sweet daripada si sapi itu.
makasih udah sempet buat gue sakit hati!!! ╭∩╮(︶.︶メ)╭∩╮
-dari yang tersakiti untuk yang menyakiti-
this is it! yeah! my photograph (งˆ▽ˆ)ง
taken by ririn anggi angraeni as photographer in Tangkuban Parahu, Subang, West Java :)
please give me your comments so that I can learn better than this!!!
20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren *belajarfotografi*
Komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
- Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian
- Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan
- Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang
- Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali
- Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto
- Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat
- Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek
- Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya
- Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto
- Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana
- Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.
- Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi
- Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan
- Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan
- Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat
- Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka
- Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto
- Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawah
- Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting
- Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan anda
Langganan:
Postingan (Atom)





